Kamis, 10 November 2016

STOP AYAH, BUNDA... HENTIKAN!!!


Kenapa ada perceraian? Bukankah Tuhan membenci itu? Bukankah jauh sebelum terjadinya perceraian, dua insan berkeyakinan mereka saling mencintai dan ditakdirkan untuk hidup bersama. Lalu bagaimana dengan sekarang? Tidak, mereka memtuskan untuk saling menjalani kehidupan masing-masing. Tidak bersama dan sejalan lagi. Rasa cinta, kasih, dan sayang yang bertahun-tahun lamanya telah kalah. Hanya rasa kecewa, sakit hati, dan penyesalan yang lebih domain untuk saat ini. Mengapa? Dan bagaimana rasa itu lebih domain yang muncul hingga menimbulkan perpisahan? Ya... karena selama bertahun-tahun kedua insan yang mengaku saling mencinta ini menyembunyikan semua perasaan, dan membiarkan permasalahan terus muncul tanpa adanya penyelesaian yang ada ujungnya. Dan tidak ada keterbukaan satu sama lain.
Jadi ini keputusan kalian? Baiklah, mungkin kalian yang dulu terlihat saling mencinta sudah berbesar hati menerima kenyataan dan keadaan ini. Mungkin di dalam pikiran dan angan kalian nantinya sudah tergambar kehidupan rumah tangga seperti apa yang kalian inginkan. Agar tidak terulang lagi kegagalan untuk ke-dua kalinya. Masyarakat dan keluarga pun akan memahami keputusan kalian. Atau mungkin bisa saja keluarga dan masyarakat di luar sana menyakan pertanyaan yang begitu banyak untuk keputusan kalian, dan meragukan kehidupan kalian selama ini.
Saya sendiri percaya, bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah di balik semua kejadian. Tanpa terkecuali. Sesungguhnya Tuhan amatlah baik. Tuhan yang menciptakan pertemuan dan menghadirkan perpisahan diantara semua umat-NYA. Tuhan sendiri yang menjanjikan, bahwa Tuhan akan mengirim orang yang salah terlebih dahulu untuk kita, sebelum Tuhan mengirimkan orang yang tepat sebagai teman hidup kita. Saya sangat percaya itu. Namun disaat Tuhan sudah mengirimkan orang yang tepat untukmu, dan kamu bisa merasakan itu, dengan meminta petunjuk kepada Tuhan, kamu dan orang pilihan Tuhan itu memutuskan untuk menikah. Sebuah hubungan yang saling menyatukan satu sama lain dan di dalamnya ada sebuah perjanjian serta sumpah di hadapan Tuhan.
Babak baru dalam kehidupan kalian berdua. Sebuah kehidupan rumah tangga yang kalian bangun dengan usaha kalian. Suka dan duka bertahun-tahun akan kalian rasakan bersama. Sampai pada akhirnya gelombang datang menyapa kalian dengan derasnya. Kalian mencoba mengendalikan gelombang itu. Bertahan dan tetap menghadapinya. Untuk sesaat kemudian gelombang tenang dan jelas ada senyum hangat di dalam keluarga kalian. Kalian berhasil melewati gelombang pertama yang menyapa keluarga kalian.
Kebahagiaan yang lengkap. Ada kalian sebagai orang tua. Ada bayi-bayi mungil yang kini mulai beranjak dewasa, yah, anak-anak kalian. Raut wajah yang manis yang menurun dari kalian. Mereka yanag selalu menjadi kekuatan dan semangat kalian. Tanpa henti kalian berusaha membahagiakan dan mencukupi mereka. Terkadang mereka melakukan kesalahan, yang membuat kalian marah dan memberinya hukuman, hanya untuk membuat mereka sadar bahwa itu tidak benar dan tidak baik. Sungguh keluarga yang sangat bahagia.
Tidak... tidak... tidak mungkin... gelombang itu menghampiri kalian lagi. Aku bisa menyaksikan itu di sini. Gelombang itu kini sangat dahsyat. Lihatlah anak-anak kalian. Raut wajah yang manis menjadi ketakutan. Air mata anak-anak kalian, apakah kalian berdua bisa melihatnya? Lihatlah, mereka menangis. Gambaran suami dan istri yang mencoba melindungi rumah tangganya dari gelombang dahsyat. Namun gelombang ini sangat dahsyat. Percekcokkan dan hinaan siang dan malam tidak bisa dibendung lagi. Anak-anaknya yang sudah mulai tumbuh dewasa mulai memahami situasi ini. Mereka memahami bahwa orang tuanya mulai menyerah menghadapi gelombang ini. Namun segala upaya tetap dilakukan untuk menghadapi gelombang bersama-sama. Namun tetap, mereka mulai lelah. Anak-anak yang sangat manis. Mereka hanya bisa terdiam dan mendengarkan percekcokkan setiap harinya tanpa mengenal waktu. Tapi apakah kalian memahami hati mereka? Padahal kalianlah yang melahirkan dan membesarkan mereka. Sudahlah... kalian tidak memahaminya. Kalian sedang asyik beradu pendapat di dalam kamar kalian yang kecil itu. Yang setiap malam anak kalian bisa mendengarnya.
Gelombangnya tidak segera tenang. Gelombangnya terus dan menerus menyapa kehidupan kalian. Kalian tidak mampu lagi menghadapi gelombang itu. Kalian mencoba menjelaskan ke putra dan putri kalian kenyataan yang sesungguhnya. Dengan saling menyalahkan satu sama lain. Dengan saling menghina satu sama lain. Dengan ditambah sedikit drama seperti ala-ala korea. Kalian memutuskan untuk saling berpisah dan menjalani kesendirian.
“Iya, kalau memang itu yang terbaik. Kami akan mendukung.” Sungguh, anak-anak yang luar biasa. Suami dan istri itu memeluk anak-anaknya dan mengucapkan terimakasih. Tanpa mereka sadari, mereka melakukan kesalahan. Mereka tidak benar-benar mengetahui kondisi hati semua anak-anaknya. Mereka hanya sedang merayakan gelombang yang sudah tenang, sama seperti kehidupan rumah tangga yang mereka bangun. HANCUR....
Di dalam kamar, di saat orang tuanya pergi dengan keputusan mereka. Anak-anak ini hanya menangis, saling berpelukan. Mereka saling menguatkan. Saling meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
Tuhan gambaran kecil kehidupan rumah tangga hamba-MU. Yang kini memilih untuk memutuskan hidup masing-masing. Kasihan sekali anak-anak mereka. Sesungguhnya mereka adalah korban dari perpisahan ini. Meskipun ayah atau ibunya selalu meyakinkan semua masih sama seperti dulu. Ayah tetaplah ayah kalian. Dan ibu adalah ibu kalian. Namun apakah Tuhan juga melihatnya sama sepertiku yang melihatnya. Disaat perceraian sudah mereka putuskan, namun pertengkaran masih saja terjadi, anak-anak ini selalu menjadi sasaran amukan dari ayahnya. Sungguh kasihan. Tanpa memikirkan kondisi kejiwaan sang anak, masih saja mereka melakukan perdebatan yang seharusnya sudah selasai seiring dengan perceraian mereka. Namun tidak, saling menyalahkan masih saja terjadi. Terus dan akan terus seperti ini.
Lalu apa yang kalian pikirkan saat ini? Masihkah kalian berfikir bahwa semuanya masih seperti dulu? Tidak, sungguh ketidak benaran yang kalian usahakan menjadi sebuah kebenaran. Semuanya berbeda. Beruntunglah kalian mempunyai anak-anak yang kuat dan bisa berbesar hati dengan ketidak berdayaan orang tuanya menghadapi gelombang dahsyat itu. Anak-anakmu sekarang mulai memahami mana yang benar dan yang salah. Mereka mencoba mencurahkan isi hatinya tanpa ingin melukai hati kalian. Namun selalu kalian tepis dengan pemikiran-pemikiran kalian, yang selalu menjadi patokan kebenaran di mata kalian sendiri. Sungguh egoisnya kalian.
Jangan jadikan kebencian, kemaranahan, kekecewaan kalian mempengaruhi anak-anak yang manis itu menjadi korban. Jagan lampiaskan semua emosi kepada mereka. Sungguh mereka hanyalah seorang anak yang tetap berusaha memahami semuanya, meskipun sesungguhnya hati mereka menolak kenyataan ini. Jangan jadikan mereka korban dari kesalahan yang kalian perbuat. Mereka hanyalah seorang anak. Yang ingin melihat kalian bahagia tanpa harus saling menyakiti. Hentikan semua percekcokkan yang ada. mereka tidak ingin menyakiti kalian. Mereka hanya ingin melindungi kalian dari ketidak benaran sebuah hubungan.
Tuhan... sungguh Engkau amatlah baik. Tidak ada yang tau semua maksud dan keinginan-Mu kecuali Engkau sendiri. Aku percaya, anak-anak mereka akan tumbuh menjadi anak yang tegar dan kuat. Namun Tuhan bagaimana dengan lingkungan? Pandangan dari masyarakat?
Masyarakat masih saja menganggap dengan sebelah mata anak-anak yang keluarganya telah hancur karena perpisahan. Bahkan mereka menganggap, bahwa anak-anak broken home tidak pantas menjadi pasangan dari anak-anak yang keluarganya utuh. Mereka beranggapan bahwa karma akan terus berjalan. Mereka menjauhi anak-anak ini Tuhan... sungguh miris dengan ketidak tahuan masyarakat yang membenarkan akal pikiran mereka. Mereka selalu berguncing di belakang anak-anak ini. Sesungguhnya mereka hanya korban namun mereka bukan kutukan. Mereka juga berhak hidup bahagia, sekalipun mereka disandingkan dengan keluarga yang utuh. Mereka berhak mendapatkan kebahagiaan Tuhan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar